Showing posts with label Psychology. Show all posts

Coloring Books & Art Therapy

Kalau diperhatikan belakangan ini, coloring books itu sifatnya hype, prominen sebagai art trends. Seringkali disebut sebagai hobi, serta banyak dinilai dapat meredakan stres dan dikatakan sebagai art therapy. Bentuk coloring books sekarang juga sudah beragam sekali, salah satu yang saya punya adalah yang bentuk Star Wars :3

Star Wars Colouring Book & Millenium Falcon Art Kit

"Oh, hi! Princess Leia"

Terlepas dari bentuknya yang gemes-gemes, mungkin kamu perlu tahu manfaat sebenarnya dari coloring books ini. Apa benar-benar dapat dikatakan sebuah terapi seni, atau hanya sekedar pelepas hobi?

Art therapy adalah proses pembuatan dan penciptaan karya seni yang digunakan untuk 'mendamaikan perasaan, meredam konflik emosional, mengangkat kesadaran diri, mengelola perilaku dan kecanduan, mengembangkan keterampilan sosial, meningkatkan orientasi realita, mengurangi kecemasan, dan meningkatkan self-esteem (American Art Therapy Association).

Namun ternyata, menggunakan buku mewarnai tidak persis sama dengan menyelesaikan sesi terapi seni pada umumnya. Hal ini dikarenakan art therapy yang sesungguhnya memerlukan fasilitas-fasilitas lain. Oleh karena itu, mewarnai coloring book tidak dapat sepenuhnya dikatakan sebagai terapi seni, karena terapi juga bergantung pada hubungan antara klien dan terapis. 

Walaupun begitu, mewarnai memiliki keuntungan dalam kesehatan mental. Mewarnai memiliki potensi terapi untuk mengurangi kecemasan, membuat fokus, dan membawa mindfulness pada diri kamu. Kalau menurut neuropsikolog, aktivitas mewarnai dapat memunculkan pola pikir santai, seperti kalau kamu sedang meditasi. Proses yang terjadi dalam diri kita pun sama seperti meditasi, mewarnai dapat memindahkan otak dari sebuah pikiran untuk fokus pada apa yang sedang dijalani. Serta mengubah denyut jantung dan gelombang otak. So, give it a go! :3

Terlepas dari bentuk terapi itu sendiri, perlu diingat bahwa apabila kamu memang sedang menghadapi suatu permasalahan mental atau emosional yang signifikan, maka sangat dianjurkan untuk kamu mendapatkan bantuan dari profesional. Namun bagi kamu yang hanya butuh untuk sedikit tenang dan mengalihkan perhatian, coloring books dapat membantu kamu. Karena aktivitas ini pun tidak merugikan, malah membawa sumber positif dalam diri kamu, dan menyenangkan!

Oiya, karena tipe orang itu berbeda-beda, maka dalam menghadapi sebuah masalah jenis penanganannya pun akan berbeda. Baik dari segi terapi profesional, maupun metode sederhana seperti mewarnai buku, keefektifannya tergantung pada diri kamu sendiri. Apapun itu, ingat selalu untuk perhatikan sumber psikologis diri kamu ya :3






"Art may not be able to cure disease, but art can heal the planet through the form of beauty expression"



Jangan lupa bahagia!
- Putri Dewinta






Referensi:

http://edition.cnn.com/2016/01/06/health/adult-coloring-books-popularity-mental-health/

http://www.medicaldaily.com/therapeutic-science-adult-coloring-books-how-childhood-pastime-helps-adults-356280










7 Cara Emosi Mengontrol Diri Kamu



Dari hari ke hari, emosi mengambil hampir sebagian besar porsi waktu di dalam kehidupan seseorang. Mendengar istilah emosi, seringkali kita mengasosiasikan sebagai hal yang negatif, padahal bentuk emosi itu bermacam-macam lho. Emosi tidak selalu muncul melalui tindakan yang buruk. Perilaku yang menunjukkan energi positif juga dapat dipertimbangkan sebagai emosi. Dapat dikatakan bahwa baik dan buruknya emosi tergantung dari bagaimana individu mengatasinya. Dan dari situ, sadarilah bentuk emosi yang kita rasakan, agar dapat mengerti bagaimana cara untuk mengontrol emosi, bukan malah membiarkan emosi mengontrol diri kita. 

Dari beragam macam emosi, ada 7 cara bagaimana sebuah emosi dapat mengontrol individu, dimulai dari emosi yang kita rasakan ke perilaku yang kita tunjukkan, yaitu:

1. Amarah = Penyesalan

Tindakan yang didasari oleh amarah dapat menyebabkan akhir sebuah penyesalan.  Perasaan marah dapat membuat individu mengeluarkan kata-kata kasar dan keputusan yang bersifat gegabah. Bahkan dapat menyebabkan malapetaka kalau kamu tidak berhati-hati. Belajarlah untuk mengenal kondisi kamu ketika marah, kemudian cobalah untuk tenang, sebelum amarah itu menjadi begitu parah dan mempengaruhi diri kamu untuk berbuat sesuatu yang nantinya akan disesali.

Hampir setiap orang pernah memiliki pengalaman pribadi dalam hal ini. Tetapi hal-hal yang tidak diinginkan masih sering terjadi karena sulitnya mengontrol amarah yang kita rasakan. But practice make perfect! Try to calm your head down before it's too late.

2. Kegelisahan = Kekhawatiran

Walaupun banyak hal yang wajar membuat kamu gelisah, khawatir mengenai situasi yang memang diluar kontrol kita hanya menghabiskan waktu. Rasa gelisah dapat membawa kita masuk pada pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan, membuat kita memprediksi segala sesuatunya akan menjadi malapetaka, dan membuat kita letih dengan pertanyaan 'what if'.

Cobalah untuk mengubah kekhawatiran abstrak dan tidak produktif dengan cara mencari pemecahan masalah yang nyata dan berguna. Buatlah situasi berkembang dengan mengambil langkah pencegahan, dibandingkan kamu hanya berdiam diri, sibuk dengan rasa khawatirmu memikirkan sesuatu yang buruk yang belum tentu terjadi. 

3. Frustasi = Menyerah

Frustasi dapat membuat kita pesimis, berpikir bahwa segala sesuatunya terlalu sulit, dan bahwa kamu tidak dapat melakukannya. Pemikiran seperti itu hanya akan mendukung rasa frustasi kamu untuk terus menerus hadir dalam otak kamu. Dan pada akhirnya, hal itu akan membuat kamu malas berusaha dan menyerah sebelum waktunya.

Coba sadari bagaimana frustasi dapat mempengaruhi kinerja kamu. Ketika kamu berusaha untuk menyelesaikan tugas yang sulit, beristirahatlah dan bantulah diri kamu sendiri. Inner voice kamu konon dapat membantu untuk merasa jadi lebih semangat lagi.

4. Kesedihan = Menarik Diri

Ketika kamu merasa sedih, kamu dapat berpikir untuk mengisolasi diri. Padahal  dengan menarik diri dari teman, keluarga, atau lingkungan sekitar kamu, hanya akan dapat membuat kamu merasa lebih buruk.  Dalam situasi seperti ini, cobalah untuk berbaur dengan orang lain. Walaupun kamu sendiri merasa tidak membutuhkannya, tapi ada kalanya berada diantara orang lain dapat mengalihkan diri kamu, membuat kamu nyaman, atau mungkin meringankan beban kamu.

5. Ketakutan = Menahan Diri

Rasa takut dapat membuatmu merasa tidak nyaman, dan merupakan hal yang normal ketika kamu ingin menghindari perasaan tersebut. Namun, ketika menghindari hal-hal yang kamu takuti, kamu secara bersamaan dapat menahan cara untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Entah itu rasa takut melamar pekerjaan baru, takut akan kegagalan, dan sebagainya, ketika kamu berusaha dengan gigih, kamu akan mendapati kepercayaan diri, yakin dalam kemampuan yang dimiliki, yang kemudian membuat kamu berani untuk melakukan hal yang membuat kamu takut.

6. Kegembiraan = Pengabaian

Bukan hanya emosi yang tidak menyenangkan yang dapat mengganggumu, kegembiraan pun terkadang dapat membawa masalah. Ketika kita terlalu gembira, kita merasa berada diatas awan dan cenderung untuk meremehkan hal lain, hal ini justru dapat membuat kita kehilangan kesempatan untuk maju, lho.

Ketika gembira, kita bisa spontan mengambil keputusan yang gegabah. Sadarlah ketika hal itu terjadi dan gunakanlah waktu kamu untuk mengevaluasi baik dan buruknya keputusan yang akan kamu ambil, sehingga kegembiraan yang kamu rasakan tidak menyesatkan kamu.

7. Rasa Malu = Sembunyi

Rasa malu merupakan emosi yang kuat yang dapat membuat kamu ingin menghilang dari bumi. Ada kalanya kamu ingin menutupi kesalahan-kesalahan yang membuat kamu, bahkan hingga dapat menutupi jati diri kamu. 

Tahanlah diri kamu untuk menyimpan rahasia yang berasal dari rasa malu. Jadilah diri kamu yang sebenarnya dan siaplah bertanggung jawab atas perbuatan apapun yang kamu lakukan, meskipun perasaan malu mewarnai pikiran kamu.

Note To Yourself

Emosi yang membawa kamu ke sebuah tindak perilaku tertentu tidak terbatas pada 7 hal diatas. Masih banyak lagi jenis emosi yang akan kamu temukan sehari-hari yang dapat mempengaruhi bagaimana individu berpikir dan berperilaku.
Emosi = mengubah persepsi = mempengaruhi perilaku.
Spread the love!


Cheers!
Putri Dewinta 



Sumber:

https://www.psychologytoday.com/blog/what-mentally-strong-people-dont-do/201510/7-surprising-ways-your-emotions-can-get-the-best-you?utm_source=FacebookPost&utm_medium=FBPost&utm_campaign=FBPost

Mengenal Gangguan Bipolar


Berapa tahun belakangan, istilah gangguan bipolar (bipolar disorder) tak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia. Adanya pengalaman-pengalaman yang terungkap mengenai pengidapnya membuat perhatian masyarakat tersorot pada gangguan psikologis ini. Khususnya bagi individu yang update akan media, baik internet maupun televisi. 

Saya mengatakan demikian karena dari yang saya ketahui sebelumnya, masyarakat masih belum familiar akan gangguan psikologi dan bahkan masih sering menyalah artikan makna dari gangguan tersebut. Untuk itu, alangkah baiknya bila saya membantu memberikan sedikit informasi yang berdasarkan sumber ilmiah mengenai gangguan ini. 

Pengertian Gangguan Bipolar 


Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan mental yang memiliki karakter yaitu mood yang berubah-ubah. Individu yang mengidap gangguan bipolar mengalami perubahan mood antara high (mania) dan low (depresi). Perubahan mood ini memiliki episode atau jangka waktu tertentu. 

Episode Mania & Depresi

Episode mania memiliki karakteristik seperti kegirangan atau kesenangan yang ekstrim, bertingkah hiperaktif, pikiran yang menggebu-gebu (yang terkadang membuat individu berbicara cepat), dan perasaan tidak butuh tidur. Sedangkan episode depresi ditandai dengan rasa kesedihan yang ekstrim, berkurangnya energi dan ketertarikan akan segala sesuatu, tidak dapat menikmati aktivitas yang menyenangkan, dan merasa tidak berdaya dan putus asa. 

Jangka waktu mania maupun depresi pun beragam, dapat berlangsung singkat dari beberapa jam, hari, minggu, atau bahkan bulanan. Jangka waktu ini berbeda pada masing-masing pengidap bipolar. Saking singkatnya, terkadang pengidap tidak menyadari bahwa ia memiliki gangguan tersebut.
Pengidap gangguan bipolar seringkali mengalami apa yang disebut dengan emotional roller coaster. Emosinya yang naik turun dapat membuat mereka sulit menjalani hidup layaknya orang yang normal. Dan bagi pengidapnya, emosi, pikiran, dan perasaan yang dimiliki seringkali diluar kendali mereka.

Gangguan Bipolar Dan Mood Swings 

Membantu memberikan informasi mengenai gangguan bipolar pada orang-orang disekitar saya, seringkali saya mendapati pertanyaan apa yang membedakan individu pengidap gangguan bipolar dengan individu yang tergolong normal tapi menunjukkan mood yang naik turun atau mood swings
Walaupun terkesan sama, saya ingin menekankan bahwa dalam mendiagnosa, terdapat karakteristik-karakteristik tertentu yang harus 'dipenuhi' untuk kemudian dapat membuat individu dikategorikan sebagai pengidap gangguan bipolar. Kriteria ini menunjukkan gejala yang parah, bersifat spesifik, yang berbeda dari naik turunnya mood yang tergolong normal. Jadi, tak selamanya seseorang yang moody merupakan pengidap gangguan bipolar.

Selain itu, yang membedakan dengan emosi individu yang normal ialah bahwa pengidap gangguan bipolar akan merasa sulit untuk melakukan aktivitas keseharian. Ia tidak dapat bekerja dan berkomunikasi secara efektif dan seringkali mengalami distorsi realita.

For Your Information

Mendeteksi adanya gangguan psikologis sangatlah penting bagi individu. Tetapi ingatlah untuk tidak melihat segala sesuatu hanya dipermukaan saja. Karena apabila kita menuding seseorang memiliki gangguan tertentu tanpa tahu kepastiannya, kita hanya akan menciptakan label pada orang tersebut dan memunculkan stigma tertentu yang dapat merugikan orang lain.
Bangunlah kesadaran akan kesehatan mental dengan menyerap informasi-informasi yang kita dapat secara bijak. Selain menambah pengetahuan bagi diri sendiri, kita juga dapat menyikapi segala sesuatunya dengan benar tanpa menyakiti orang lain.

Let's contribute and help by share it to the people around you. Be a smart reader and spread the love!

Cheers,
- Putri Dewinta




Sumber:

Bressert, S. (2013). An Introduction to Bipolar Disorder. Psych Central. Retrieved on November 1, 2015, from http://psychcentral.com/lib/an-introduction-to-bipolar-disorder/

Bressert, S. (2013). Symptoms of Bipolar Disorder (Manic Depression). Psych Central. Retrieved on November 1, 2015, from http://psychcentral.com/lib/symptoms-of-bipolar-disorder-manic-depression/




7 Cara Menghadapi Pikiran Negatif


Hidup di zaman sekarang, hampir selalu saya menemukan energi negatif dimana-mana. Di sekolah, kuliah, ditempat kerja, bahkan dirumah. Ditambah lagi, dengan advanced nya perkembangan teknologi saat ini, aura negatif pun bisa sampai ke kita tak kenal waktu, melalui instagram, twitter, facebook, dan sebagainya.

Terlepas dari adanya pengaruh energi negatif yang berasal dari lingkungan eksternal, alangkah baiknya untuk melakukan intervensi dari sisi internal individu itu sendiri. Seseorang yang didominasi oleh pikiran negatif bukanlah orang yang menjadi favorit dalam hidup orang lain. Apa-apa bawaannya hampir selalu berbau negatif, ditambah lagi aura yang dibawa sangatlah kuat mempengaruhi orang lain.

Memiliki pikiran negatif dapat membuat kamu jadi orang yang penuh prasangka dalam menghadapi segala situasi, dan dari situ kamu jadi susah untuk enjoy momen kamu. But if you wanna help yourself, try these 7 ways to manage your negative thoughts:

1. Recognize Thought Distortions
Kenali Distorsi Pikiran Kamu

Ketika berpikir, otak manusia memiliki cara yang tangguh dalam meyakinkan dirinya tentang sesuatu yang tidak sepenuhnya benar. Dan seperti maknanya, distorsi dapat membuat apa yang kita pikirkan bertentangan dengan fakta yang ada. Jenis pikiran seperti ini dapat menguatkan kita dalam berpikir negatif. Umumnya, ada 4 distorsi pikiran yang dialami individu, yaitu:

- Black And White Thinking: Ketika kamu berpikir bahwa hanya ada hitam dan putih, tidak ada hal diantaranya.  
- Personalizing: Berasumsi bahwa kamulah penyebab semuanya tidak berjalan dengan baik. Contohnya ialah ketika kamu tersenyum namun orang lain tidak tersenyum kembali kepadamu, kamu berpikir bahwa kamulah yang membuatnya marah. Padahal, bisa saja memang orang itu sedang mengalami hari yang buruk atau simpel nya ia sedang tidak mood. 
- Filter Thinking: Memilih untuk melihat situasi hanya dari sisi negatifnya saja 
- Catastrophizing: Berasumsi bahwa pada akhirnya yang terjadi adalah hal yang buruk

Dari keempat jenis distorsi pikiran diatas, pasti masih banyak lagi jenis distorsi pikiran yang mungkin tidak terungkap atau terdeteksi. Yang dimaksud dalam cara pertama ini ialah bahwa untuk melakukan cara menghadapi pikiran negatif, penting bagi kamu untuk sadar terlebih dahulu, agar kemudian kamu bisa lanjut ke step selanjutnya, yaitu untuk menolak pikiran negatif tersebut.

2. Challenge Negative Thoughts
Menolak Pikiran Negatif

Ketika kamu mengalami distorsi pemikiran tersebut, berusahalah untuk menghentikan pikiranmu sejenak untuk mengevaluasi apakah pikiran tersebut akurat atau tidak. Pikirkan ketika situasi ini terjadi pada teman kamu, kemungkinan kamu akan membantah pandangan negatifnya. Bukalah pikiran kamu dan coba untuk berpikir logis terhadap pikiran kamu sendiri.

Cara melakukannya: Jika kamu berpikir bahwa hal buruk akan terjadi, temukanlah alasan dan pencerahan yang dapat meyakini kamu bahwa pada akhirnya yang terjadi tidak akan selalu negatif. 

3. Take A Break From Negative Thoughts
'Istirahat' Dari Segala Pikiran Negatif

Kalau kamu belum tahu atau tidak mempercayainya, saya disini ingin meyakinkan bahwa sangat mungkin bagi kamu untuk 'beristirahat' dari pikiran-pikiran negatif kamu. 

Cara melakukannya: Ketika kamu sudah mulai berpikir jelek, gunakanlah 5 menit waktu kamu untuk benar-benar memikirkan dan merenungkannya, untuk kemudian melupakannya seharian dan fokus pada hal lain. Carilah kesibukan dan kelilingilah diri kamu dengan orang-orang yang positif dan tidak akan menambah beban pikiran kamu.

4. Release Judgement
Buanglah Penilaian-penilaian Negatif Kamu

Seringkali kita menilai diri kita dan orang lain, dan ada kalanya kita melakukan hal tersebut secara tidak sadar hingga dapat menyebabkan kekecewaan pada diri kita. Namun, ketika kita mencoba untuk membuang atau memperbaiki segala penilaian tersebut, kita akan merasa lebih nyaman menjalani hidup dan lepas dari beban pikiran yang kita ciptakan.

Cara melakukannya:
-  Sadar akan apa yang kamu pikirkan, amati pikiran tersebut, dan biarlah pikiran ini pergi jauh
- Coba untuk melakukan penilaian yang positif

5. Practice Gratitude
Bersyukurlah!

Dari seluruh tips-tips yang ada, menurut saya inilah yang paling memberikan pengaruh besar. Saya pun sering mendengar nasehat dan petuah dari orang bijak, bahwa kunci dari kebahagiaan ialah dengan bersyukur. Ketika kamu bersyukur dengan tulus, penuh rasa ikhlas, dan tanpa mengharapkan hal lain untuk datang kepadamu, kamu akan merasa bahagia dengan apa yang kamu miliki.

Penelitian juga mengatakan bahwa bersyukur dapat mempengaruhi level energi positif dalam diri kamu dan menimbulkan kebahagiaan. Kalau kamu membiasakan diri untuk bersyukur, kamu akan dapat menemukan hal untuk disyukuri tak peduli sekecil apapun hal itu, bahkan ketika kamu dalam keadaan sulit.

Cara melakukannya: Ketika kamu merasa kekurangan ini itu dalam hidup kamu, cobalah untuk menengok pada apa yang sudah kamu punya, dan bersyukur akan hal tersebut. Menulis jurnal juga dapat membantu kamu melihat lembaran hidup kamu sebelumnya, bahwa banyak sekali hal indah yang sudah kamu miliki dan wajib kamu syukuri.

6. Focus On Your Strengths
Fokus Pada Kelebihanmu

Berpikir negatif dan mengabaikan hal yang positif memang manusiawi. Tetapi ketika kamu merasa bahwa diri kamu di dominasi oleh energi yang negatif, bukan masalah untuk kemudian merasa bangga akan kelebihan yang kamu miliki. You need that.

Cara Melakukannya: Ketika kamu mulai berpikir jelek mengenai diri kamu atau apa yang kamu lakukan, berhentilah sejenak dan pikirkanlah mengenai kelebihan yang dimiliki, atau hal-hal baik yang kamu suka dalam diri kamu. 

Dengan memfokuskan pikiran pada kelebihan diri dan tidak memikirkan keburukan kamu, akan lebih mudah bagi kamu untuk berpikir positif pada diri kamu sendiri dan melihat jelas arah kehidupan yang kamu jalani. 

7. Seek Out Professional Support
Temui Dan Dapatkan Bantuan Profesional

Kalau kamu merasa sulit untuk mengatur pikiran kamu dan merasa hal tersebut mengganggu kamu dalam menjalani dan menikmati hidup, cobalah untuk menemui Psikolog/Ahli Profesi dan jadikan konseling dan terapi sebagai opsi kamu. Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan perubahan hidup, mengurangi penderitaan emosional kamu, dan menginginkan adanya perkembangan diri kamu, pertimbangkanlah hal ini.  



Try It!
Cobalah!

Sungguh tak mudah untuk mengontrol dan membenahi pikiran kita. Terkadang kita pun sudah terbiasa dengan jalan pikiran tertentu dan merasa bahwa tak perlu ada yang diubah didalamnya. Dengan begitu, cara berpikir seperti ini akan semakin menguat dan mengalir apa adanya dalam pikiran kita. But who says that its too late to change?

Berpikir bahwa sangat sulit untuk mengubah jalan pikir kamu, mungkin juga merupakan bagian dari pikiran negatif itu sendiri. So who's with me to change to be a better person?




Loves,
- Putri Dewinta
 
Sumber:
https://www.psychologytoday.com/blog/women-s-mental-health-matters/201509/7-ways-deal-negative-thoughts?utm_source=FacebookPost&utm_medium=FBPost&utm_campaign=FBPost

6 Tipe Ucapan Yang Menyakitkan (Verbal Abuse) Dan Cara Menanggapinya



Salah satu nikmat yang dimiliki manusia ialah kemampuan untuk berbicara. Ketika terucap dengan santun dan baik, sebuah lisan dapat mengangkat derajat manusia dengan tinggi. Namun, seperti yang kita tahu, lisan juga dapat membawa malapetaka tak hanya bagi yang mengucapnya, tapi juga bagi orang yang mendengarnya. 

Mengamati lingkungan sekitar, televisi, dan juga di media sosial, banyak sekali orang-orang yang merasa bangga akan kemampuan lisannya yang begitu mahir dalam berkata-kata. Mungkin karena melalui sebuah kalimat, seseorang dapat terdengar lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Namun melalui hal tersebut, banyak dari individu yang lupa akan dampak dari permainan kata yang diucapkan. Seringkali individu tidak berhati-hati dalam berbicara, sehingga sadar ataupun tidak, ia telah menyakiti orang lain bahkan hingga dapat mengundang konflik yang berkepanjangan.

Yang ingin saya tekankan disini ialah tipe ucapan yang menyakitkan yang dilisankan oleh subjek yang berbicara. Saya mengacukan hal ini dengan istilah verbal abuse
Maksud dari verbal abuse disini ialah sebuah tindakan secara lisan yang dapat memberi efek kekerasan atau penghinaan. Verbal abuse merupakan perilaku negatif karena dapat memberi dampak buruk bagi mental seseorang. Disini, saya akan mencoba menerangkan mengenai 6 tipe ucapan yang menyakitkan (verbal abuse) beserta cara menanggapinya. Dan untuk seterusnya, subjek yang melakukan verbal abuse akan saya sebut sebagai abusers

Here we go:

1. Abusers use the volume and tone of their voice either by yelling or ignoring to establish dominance

Abusers berbicara menggunakan nada dan volume tertentu, seperti berteriak atau mengabaikan lawan bicaranya, untuk mendominasi situasi. 

Cara Menanggapi: Ketika abusers menggunakan nada dan volume yang tidak menyenangkan saat berbicara pada kamu, tahan keinginan kamu untuk berteriak balik pada dia, atau diamlah sebagai bentuk silent treatment. Kemudian ketika abusers mulai berteriak, meresponlah dengan suara yang lebih tenang dari yang biasanya. Dan jika abusers bersikap cuek, cobalah untuk berbicara baik-baik padanya, anggap saja dia mendengarkan dan menanggapimu. 


2. Abusers use swearing and threatening language to instill fear, intimidate, manipulate, oppress and constrain

Abusers akan mengumpat dan mengancam untuk menanamkan rasa takut, intimidasi, memanipulasi, menekan, dan memaksa diri kamu. 

Cara menanggapi: Berusahalah untuk melakukan self-talk yang positif berulang kali, agar meyakinkan diri bahwa kamu tidak takut. Karena ketika kamu meyakinkan hal ini dalam diri kamu, abusers tidak akan terundang untuk mengatakan hal lebih banyak lagi


3. The abuser’s manner of speech is argumentative, competitive, sarcastic and demanding

Cara berbicara abusers bersifat argumentatif, kompetitif, sarkastis, dan menuntut.

Cara menanggapi: Ketika dia memotong pembicaraanmu, lebih baik berhentilah berbicara sampai ia selesai berbicara. Kemudian kembalilah pada poin awal yang kamu maksud, tidak perlu terpengaruh pada poin yang ia buat ketika ia memotong pembicaraanmu. Jika ia mencoba untuk mengintogerasi kamu, jawablah pertanyaan yang sebenarnya ia ingin ketahui, bukan yang ia tanyakan. Cobalah merespon dengan nada sarkartis seperti, "Mungkin saya memang konyol, dan kamu selalu benar"


4. Abusers use personal attacks such as name calling, mocking responses, defaming character, berating feelings, and judging opinions.

Abusers menyerang kamu secara personal. seperti memanggil kamu dengan sebutan yang menyakitkan, mengejek, memfitnah, mencaci maki, dan menghakimi pendapat kamu

Cara menanggapi: Ini merupakan taktik 'bicara' yang dapat membuat korban merasa rendah dan kalah. Dalam hal ini, sekali lagi kamu membutuhkan self-talk yang positif. Cobalah untuk selalu mengingat bahwa apa yang dikatakan orang lain tentang kamu tidak selamanya benar, karena kamu yang lebih mengetahui diri kamu sendiri. 


5. Abusers refuse to take responsibility, become hostile, invalidate or dismiss feelings, lie, and conveniently forget promises or commitments

Abusers menolak untuk bertanggungjawab, menunjukkan permusuhan, mengabaikan perasaan, berbohong, dan melupakan janji-janji atau komitmen yang ia buat. 

Cara menanggapi: Ketika tiba waktunya abusers mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya, jangan biarkan ia lari begitu saja. Berikanlah opini kamu disaat waktunya tepat dengan harapan ia akan menyadari perbuatannya tersebut. 


6. Typical abusive sayings include: “I’m critical for your own good,” “I was only joking when I said that…,” “If only you would…, then I won’t have to be this way,” “You don’t know how to take a joke,” “The problem with you is…,” and “That (verbal abuse) didn’t really happen.”

Abusers memiliki perkataan typical seperti "Aku bersikap kritis untuk kebaikanmu sendiri", "Aku hanya bercanda soal itu..", "Kalau saja kamu tidak begitu.. mungkin aku tidak akan begini..", "Kamu tidak dapat menanggapi lelucon", "Yang salah dari dirimu ialah..."

Cara menanggapi: Ketika kamu sudah mulai mendengar kalimat-kalimat diatas, kamu harus cepat menyadari bahwa itu merupakan bentuk awal verbal abuse. Jadikanlah catatan pada dirimu untuk segera mengakhiri pembicaraan dengan orang tersebut secepat mungkin agar kamu tidak menjadi korban.


You Should Be Aware Of The Abusers Around You!
Berhati-hatilah pada abusers disekitarmu!

Ketika seseorang sudah menjadi korban akan permainan kata-kata, ia akan lebih mudah dikontrol dan dimanipulasi oleh si subjek yang menyakiti. Dan ketika korban membalas penghinaan verbal tersebut, sebisa mungkin abusers akan memutarbalikan fakta sehingga ia tampak sebagai korban. Dari situ, abusers akan semakin mendapatkan kontrol. 

Terkadang tanpa kamu sadari, orang terdekat kamu pun pernah melakukan beberapa hal ini. Kamu harus menyadari bahwa setiap perkataan memiliki arti lain bagi alam bawah sadar kamu sendiri, sehingga tanpa sadar, kamu akan terpengaruh dengan apa yang orang lain katakan padamu. Yang perlu diingat, berhati-hatilah ketika kamu sudah merasa tidak nyaman akan suatu hal yang dilakukan orang lain, dan jangan ragu untuk pergi dari subjek negatif tersebut. Love yourself! 


Cheers!
- Putri Dewinta


References:

Hammond, C. (2015). Strategies for Combatting Verbal Abuse. Psych Central. Retrieved on October 12, 2015, from http://pro.psychcentral.com/exhausted-woman/2015/10/strategies-for-combatting-verbal-abuse/


Apakah Hubungan Percintaan Kamu Membuat Diri Jadi Lebih Baik Atau Lebih Buruk?



Apabila kamu memperhatikan hubungan orang-orang disekitar kamu, ada kalanya kamu mendengar seorang pria berkata bahwa ia menjadi seseorang yang lebih baik karena wanitanya. Baik bagi wanita ataupun laki-laki, merupakan sebuah keistimewaan mendengar hal tersebut datang dari pasangan kita. Its like we play a heroic kind of partner, that help our love one get away from the dark side, and to the light side. So romantic yet so classic!

Tapi kalau kita perhatikan, hal itu memang benar adanya lho! Hal ini biasa terjadi didalam sebuah hubungan dan konon mudah diucapkan. Sadar atau tidak, ketika kita menemukan pasangan yang tepat, kita bisa berubah menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Atau malah mungkin sebaliknya, ketika memiliki pasangan yang menjerumuskan, pribadi yang tadinya baik, malah menjadi lebih buruk.


Dengan kata lain, seorang pasangan dalam hidup kita memiliki kemampuan untuk mengubah konsep diri (self-concept) kita sebagai individu. Hal ini dapat terjadi melalui dua cara, yaitu melalui dimensi (dimention) dan kapasitas (valence).
Dimensi merupakan suatu aspek yang bisa ditambahkan atau dikurangi di dalam diri kita. Kita dapat 'menambahkan' ciri khas dan perspektif yang belum pernah kita temukan sebelumnya, namun kita pun juga dapat kehilangan aspek dari diri kita.
Kapasitas mengacu pada seberapa positif atau negatif pandangan kita terhadap konsep diri kita. 
Kedua dimensi ini kemudian dapat membentuk 4 tipe konsep diri, dimana dimasing-masingnya memiliki konsekuensi tertentu (Mattingly, Lewandowski, & McIntyre, 2014).

4 tipe konsep diri ini adalah:

1. Self-Expansion
Pengembangan Diri

Self-expansion atau pengembangan diri, ialah ketika individu mendapatkan aspek positif dalam hidupnya. Seringkali, pengembangan diri terjadi ketika sepasang kekasih sama-sama memiliki pengalaman yang menyenangkan. Contohnya, ketika pasangan bercerita denganmu mengenai hal apa yang ia suka, kamu ikut senang akan hal tersebut. Lalu seperti merasakan energi positif yang menular, kamu pun jadi ikut merasakan dorongan untuk melakukan apa yang kamu inginkan atau kamu sukai juga. Dengan tercapainya aspek ini dalam hubungan, akan dapat membantu individu menemukan kualitas dalam diri yang tidak pernah ketahui sebelumnya.

Pengembangan diri dapat terjadi ketika pasangan memberikan keleluasaan dan dorongan untuk tumbuh menjadi lebih baik. Dimana hal ini memberikan nilai yang berharga bagi hubungan, memotivasi seseorang untuk berusaha untuk menjaga hubungannya, yang kemudian memberikan sebuah cinta yang lebih besar dari sebelumnya (Streep, 2015).

2.  Self-Adulteration
Perubahan Diri Menjadi Lebih Buruk

Tidak selamanya hubungan membawa pengaruh yang positif. Pada kenyataannya, sangat memungkinkan bagi seseorang untuk menyerap atribusi negatif dari pasangannya. Inilah yang disebut dengan self-alduteration. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengadaptasikan kebiasaan buruk dari pasangannya. Contohnya seperti merokok, menjadi alcoholic, atau dapat juga jadi ikutan suka marah-marah, kasar, dan sebagainya.

3. Self-Contraction
Hilangnya Jati Diri

Konsep diri yang sudah kita miliki juga dapat menghilang lho, seperti halnya konsep tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Terkadang, hal yang kita sukai pun terpaksa harus kita korbankan demi perasaan tidak suka si pasangan. Ini menandakan bahwa konsep diri kita yang sebenarnya telah melemah dikarenakan hubungan percintaan kita.
Contohnya, ketika individu yang extrovert sering pergi untuk bersosialisasi, semenjak berpacaran, ia terpaksa harus berhenti melakukan hal tersebut karena pasangannya tidak suka ia sering keluar rumah. Kebayang dong rasanya seperti apa? Kepribadian kamu bisa berubah drastis dan sangat mungkin menyebabkan respon-respon negatif yang akan ditujukan ke pasangan.

4. Self-Pruning
Pemangkasan Aspek Diri Yang Tidak Baik

Seorang pasangan juga dapat membantu kita untuk melakukan self-pruning. Yang dimaksud dengan self-pruning ialah ketika pasangan dapat membantu kita untuk mengurangi kebiasaan buruk yang kita miliki. Contohnya, mendorong pasangan untuk berhenti merokok, berhenti minum, dsb. 

Aspek ini dapat membuat pasangan merasa menjadi pribadi yang lebih baik, dan sadar akan lingkungan positif yang diciptakan oleh pasangannya. Hubungan yang terjalin pun juga akan terasa lebih berharga dan bernilai. Selain itu, dapat dikatakan bahwa self-pruning dikedepannya juga dapat berkembang menjadi self-expansion.


Why Its Important?

Dalam menjalin hubungan, sangat besar kemungkinan bagi diri kita untuk berubah, terlebih lagi ketika menjalani hubungan yang sudah bertahun-tahun lamanya.
Self-expansion dan self-pruning dapat menghasilkan komitmen, kasih sayang, kepuasan, dan mengurangi kemungkinan ketidaksetiaan pasangan kita. 
Sedangkan hubungan yang memiliki nilai self-adulteraton dan self-contraction, cenderung akan menjadi tidak menyenangkan, kurang rasa saling mengasihi, dan lebih memumungkinkan untuk terjadi sebuah perselingkuhan. 

Dari keempat aspek ini, perlu dicatat bahwa ketika sebuah hubungan membuat konsep diri lebih baik, kemungkinan akan datangnya hal positif lainnya akan lebih besar. 
Sedangkan apabila sebuah hubungan membuat konsep diri individu menjadi negatif, hal ini dapat menyebabkan individu melihat komitmen yang lebih kecil dalam hubungannya, dan akan terus mencari hal yang lebih baik diluar sana. 

Kebanyakan pasangan bahkan tidak ingin ambil pusing mengenai hal tersebut, atau bahkan cenderung tidak pernah menyadarinya. Terkadang, disekitar saya pun banyak pasangan yang merasa terlalu sulit untuk memutuskan hubungan cintanya, walaupun mereka sadar akan kualitas diri mereka yang sudah memudar. Namun bagi saya, aspek-aspek diatas adalah hal yang penting bagi individu, karena sekiranya seorang pasangan yang kita percaya untuk hidup dengan kita nanti, bersama-sama harus dapat membangun sebuah hubungan yang positif, tanpa harus menghilangkan jati diri kita.



Salah satu hal yang indah didalam hubungan ialah ketika kita bisa bersama-sama berkembang menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak mudah memang untuk mencari pasangan yang tepat untuk diri kita. Jika memang kamu sudah mentok dengan pasangan kamu, coba bicarakan dan cari jalan keluarnya. Think about someone who's gonna grow old with you, he / she should be your other half!

Cheers!
-Putri Dewinta



Reference:
Mattingly, B. A., Lewandowski, G. W., Jr., & McIntyre, K. P. (2014). “You make me a better/worse person”: A two-dimensional model of relationship self-change. Personal Relationships, 21, 176-190.

https://www.psychologytoday.com/blog/tech-support/201508/is-your-relationship-growing-or-diminishing-your-real-self




5 Tips Menghentikan Overthinking


Seringkali saya menemukan orang-orang disekitar saya mengeluh bahwa dirinya sedang banyak pikiran. Somehow, orang yang sedang banyak pikiran dapat memutuskan untuk let it flow, tetapi ada juga yang terpuruk didalamnya dan memikirkan hal tersebut terus-menerus. Kecenderungan ini seringkali kita sebut dengan Overthinking.

Overthinking dapat membuat seseorang jadi tidak produktif dan stuck begitu saja dalam keadannya. 
Ibaratnya kegiatan sehari-hari kita yang produktif, bisa terhambat karena kita malah 'hidup' dalam pikiran kita. Terkadang derasnya pikiran ini pun datang tak dikira-kira, wajar saja untuk menghentikannya pun tidak mudah.

Menurut saya, individu bisa overthinking karena ia membiarkan dirinya untuk seperti itu. Saya pun terkadang berpikir bahwa overthinking itu sifatnya nagih. Padahal, itu merusak sekali lho.
Untuk itu, dalam melakukannya Lauren Suval (2014) membagi tips personalnya agar kita tahu apa yang harus kita lakukan ketika kita sedang overthinking.

Here goes 5 tips:

1. Adopt A Hobby
Temukan Hobi Kamu


Bagi kamu yang sudah sadar atau secara teratur menjalankan hobi kamu, stick with it. Dan bagi yang masih merasa belum punya hobi, coba deh cari tahu apa yang kamu suka, dan jadikan itu kegiatan regular kamu.
Karena apabila kamu 'mempatenkan' sebuah hobi dalam kehidupanmu, ketika terdapat waktu senggang, datang sebuah masalah, atau situasi mendadak membosankan, kamu bisa berpikir kearah sana, bukannya malah memikirkan hal lain yang ujung-ujungnya bisa buat kamu pusing dan membuang waktu kamu dengan sia-sia.

2. Write It Down
Curahkan Pikiran-pikiran Tersebut Dalam Tulisan

Menulis memang bukan untuk setiap orang. Tetapi kalau kamu punya pikiran yang berlebihan dan perlu diluapkan, kenapa tidak? Dimasa sekarang menulis pun tidak harus hanya dengan buku tulis dan pulpen, masih banyak media lain yang bisa kamu gunakan untuk mencurahkan isi pikiran kamu seperti Blog, Tumblr, Online Diary, dan sebagainya.

Dan menurut saya, menuliskan pikiran kamu ini bukan berarti kamu harus punya pembaca. Simpelnya, kamu bahkan bisa mencurahkan isi pikiran kamu di Microsoft Word lengkap dengan security password agar tidak ada yang bisa tahu. Its as simple as that buat curahin kelebihan pikiran kamu dalam tulisan.

Tetapi balik lagi ke pribadi masing-masing, hal ini memang merupakan sebuah preferensi. Namun tidak ada salahnya kamu coba sekali-kali, it will relieves your thoughts in certain kind of levels.

3. Keep Your Hands Occupied
 Sibukkan Diri Kamu

Nah kalau yang ini datangnya dari teori Psikologi yang menyatakan bahwa datangnya stres itu 'mengalir' melalui 2 saluran. Yang pertama adalah Primal Sensory Channel, yang bentuknya berupa penglihatan, pendengaran, sensasi, indra penciuman, dan situasi. Sedangkan yang kedua ialah Intellectual Channel, dimana disini otak kita berusaha memahami apa yang sedang terjadi, yang kemudian diproses melalui kata-kata dan dalam konteks yang dapat kita bicarakan.

Lalu dari situ, terdapat penelitian yang menyatakan bahwa ketika sensory channel bekerja, maka intellectual channel akan berhenti bekerja untuk sementara. Oleh karena itu, teknik untuk menghilangkan stres salah satunya adalah dengan membuat sensory channel kita bekerja. Salah satunya dengan menyibukkan diri dengan aktivitas yang memerlukan gerakan-gerakan tangan, seperti menjahit, bermain gitar, dan sebagainya. 

4. Move Around
Jalan-jalan!

Coba untuk jalan-jalan keluar menghirup udara segar. Dengan begitu kita dapat menikmati suasana yang 'ramah' yang bisa saja melapangkan pikiran kita yang mumet. Kamu juga bisa mencoba olahraga, dance, dan melakukan pergerakan-pergerakan lainnya untuk membuat kamu melepaskan overthinking kamu.

5. Talk To Someone
Bicarakan Dengan Orang Lain

Bersifat transparan dan membiarkan orang lain mengetahui tentang kondisi kamu dapat membantu 'membersihkan' pikiran-pikiran berlebih tersebut. Seringkali ketika saya sedang sedih ataupun kesal, saya menjadi lebih lega ketika saya curhat pada teman baik saya.
Kamu hanya butuh orang yang tepat yang dapat membuat kamu merasa nyaman untuk menceritakan apa saja yang kamu rasakan. Terkadang, tak perlu memaksakan adanya solusi dari orang lain, kamu sebenarnya hanya butuh didengar, karena dengan begitu beban pikiran kamu akan terkesan 'terbagi' dengan orang lain.



Dari kelima tips diatas, kamu dapat mencoba satu per satu tipsnya tanpa berurutan. Kamu yang sudah membaca ini pun pasti sangat sadar bahwa overthinking itu tidak enak dan somehow tidak baik bagi kesehatan kamu. Bagi saya, penting bagi kamu untuk tahu bahwa kamu adalah subjek yang punya andil pada otak dan kamu bisa take control akan hal tersebut. 

Kalau ada pikiran berlebih yang ingin kamu share tapi tidak tahu dengan siapa atau malu untuk membicarakannya, saya dengan senang hati ingin membantu, reach me via this comment or ask.fm/putridewinta. 

 Live a good live and Carpe Diem!

- Putri Dewinta




Reference:
Suval, L. (2014). 5 Easy Ways to Combat Overthinking. Psych Central. Retrieved on September 27, 2015, from http://psychcentral.com/blog/archives/2014/03/16/5-easy-ways-to-combat-overthinking/

Rejection And Its Ugly Form

Saat melamar pekerjaan, ditolak perusahaan. Ketika menyatakan perasaan pada orang yang kita suka, cinta ngga berbalas. Pas kepengen kumpul dengan teman-teman, eh ngga diajak.


Setiap orang pasti pernah mengalami beberapa kejadian ini, atau mungkin semuanya.
Dan kemudian, datang rasa sakit yang kita alami secara emosional dan sifatnya tidak karuan.
Tanpa sadar, kita pun telah masuk ke zona menyakitkan yang diakibatkan oleh penolakkan, atau Rejection. Berbagai macam penolakan seringkali kita dapati selama kita hidup, hanya bedanya terletak di bagaimana masing-masing individu menanggapi penolakkan tersebut.

Ada individu  yang santai-santai saja ketika mendapati penolakan, yang selalu terbantu oleh dirinya yang mudah untuk positive thinking dalam menafsirkan sesuatu. Namun ada juga yang sampai masukin kedalam hati, sampai-sampai bisa kebawa mimpi. 

Lain kejadiannya kalau yang mengalami penolakkan tersebut bukan kita, melainkan orang terdekat kita. Menghadapi seseorang yang take rejection too personally kadang sangat melelahkan. Bahkan bisa mengganggu dan menghambat. Dalam konteks bersosialisasi, sepertinya lebih mudah apabila kita bergaul dengan seseorang yang tidak menanggapi segala sesuatunya dengan terlalu serius. 
But have you ever wonder what's in their mind? Kenapa seseorang bisa sangat sensitif terhadap penolakan?
 

What's With Rejection?

1. Rejection = Physical Pain

Menurut Guy Winch, seorang Psikolog, penolakan merupakan sebuah emosi yang kuat, dimana besarnya sakit yang dirasakan individu dari penolakan tersebut sensasinya bisa setara dengan sakit secara fisik. Karena ketika individu mengalami penolakan, otak akan memberi sinyal (early-warning system) yang sama dengan sinyal yang diberikan otak ketika tubuh merasakan sakit secara fisik.

Sakit yang dihasilkan oleh penolakkan itu sangat buruk rasanya. Geraldine Downey, Ph.D. (Psychology Professor of Columbia University) menjelaskan karena sebuah penolakkan seperti memberitahukan diri bahwa kita tidak dicintai dan tidak diinginkan, bahkan dalam hal tertentu dapat membuat kita seperti tak berharga.

"It makes you feel bad about yourself, and it makes you feel like nobody wants to be around you. It makes you feel angry."- Geraldine Downey, Ph.D.

Hmm.. No wonder kalo penolakkan itu sakitnya sama buruknya dengan sakit fisi.

2. Low Self-Esteem

Winch mengatakan kalau self-esteem juga berperan dalam bagaimana kita menanggapi penolakan. 
Ia menjelaskan bahwa sebuah penelitian menunjukkan bahwa individu dengan self-esteem yang rendah akan menanggapi sebuah penolakkan lebih buruk dan akan susah untuk melupakannya. Sedangkan individu dengan self-esteem yang 'sehat' akan lebih santai dalam menanggapinya.


What's In Their Mind

Seseorang yang sangat sensitif terhadap sebuah penolakkan dapat masuk kedalam pola perilaku yang dapat membuatnya semakin merasa terpuruk.
Ketika seseorang yang baru saja mengalami penolakkan, kemudian ia terlibat dalam sebuah percakapan, biasanya ia akan cenderung untuk tidak mendengarkan dan memperhatikan karena ia terlalu sibuk memikirkan penolakkan tersebut.  (Downey, Geraldine).

Ia pun akan berusaha untuk keluar dari situasi tersebut, menghindari interaksi sosial yang lebih jauh lagi karena ia tidak ingin mengalami penolakkan lebih dalam lagi.
Individu seperti ini akan cenderung untuk merasa lebih gelisah dalam situasi sosial, yang bisa membuatnya jadi merasa kesepian, atau terjebak dalam masa loneliness. (Winch, Guy)


Rejection And Its Ugly Form
Jauh didalam lubuk hati kamu, pasti tahu kamu termasuk individu yang seperti apa dalam menanggapi sebuah penolakan. Good for you if you already know how to deal with rejection. Tapi kalau kamu termasuk orang yang sensitif dalam hal ini, perlu diingat apabila kita terlalu concern dan fokus terhadap penolakkan tersebut, kita bisa sampai ke fase self-rejection lho. 
So please always train your self to have a super healthy psychological well-being. And help others by akcknowledge this things and keep understand each other.
Happy Sunday!





4 Elemen Penting Dalam Memaafkan

Hai, Selamat Pagi!

Berhubung masih dalam suasana lebaran, saya ingin membahas beberapa topik yang berhubungan dengan maaf-memaafkan.

Berbuat kesalahan terhadap orang yang dekat maupun tidak dekat dengan kita adalah hal yang tentu saja sering terjadi. Kesalahan tersebut pun dapat bersifat ringan sampai fatal.
Memaafkan adalah hal yang mudah bagi sebagian orang, tetapi tak sedikit juga yang melewati masa sulit untuk tulus memaafkan dan kemudian move on dari hal tersebut.

And then I stumbled on this article about 'Four Elements of Forgiveness' by Ryan Howes, or we should call.. how to 'Let It Go'.

So based on Howes (2009), ada 4 elemen dalam maaf-memaafkan, let's see..

1. Express The Emotion 
2. Understand Why
3. Rebuild Safety
4. Let Go

Disini, Howes berteori kalau keempatnya bukanlah tahapan, melainkan hanya sebuah elemen. Elemen memaafkan ini urutannya tidak harus persis seperti itu, kita dapat melalui fase tersebut sesuai diri kita masing-masing. Tetapi menurutnya, akan lebih baik elemen 1, 2, dan 3 itu dilalui terlebih dahulu sebelum kita masuk ke elemen 4. It makes sense, right?

I will deepening the explanation down here:

1. Express The Emotion



Menurut saya elemen ini memang penting sekali. Selama saya mempelajari Psikologi di bangku kuliah, hampir tiap teori dari ilmuan Psikolog itu mengatakan bahwa tidak baik untuk memendam apa yang sedang kita rasakan. Bicara soal emosi, tentu tidak terbatas oleh perasaan negatif seperti amarah, kekecewaan, atau perasaan sedih saja, tetapi juga perasaan cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan. Dan balik lagi ke konteks forgiveness ini, Howes berteori bahwa sangat penting bagi sang pemberi maaf untuk mengungkapkan bagaimana sebuah kejadian itu berdampak pada dirinya.

2. Understand Why


Familiar dengan perilaku overthinking dong? Saya seringkali mendengar orang-orang disekitar saya mengeluh karena dirinya memikirkan sesuatu secara berlebihan, and told the social media that their head will explode or something. Nah, memang otak kita akan secara kontinu mencari tahu alasan dari sebuah kejadian. Terlepas dari rasional atau tidaknya alasan tersebut, setidaknya kita sudah bisa 'tenang' dulu karena sudah memegang jawaban yang kita cari sendiri. Dan menurut Howes, dalam fase memaafkan memang sudah seharusnya kita mencari tahu penyebab dari kesalahan atau perilaku buruk yang dilakukan orang lain pada kita.

3. Rebuild Safety


Nah ini dia. Menurut saya ini salah satu hal yang menyebabkan mengapa seseorang sulit masuk ke fase 'Let Go' dalam forgiveness.
Wajar saja, ketika seseorang berbuat kesalahan atau melakukan suatu hal yang buruk pada kita, tentu kita akan merasa tidak aman, atau mungkin mempertanyakan kredibilitas sosok tersebut.
Untuk benar-benar bisa ikhlas buat memaafkan seseorang, kita harus mendapatkan keyakinan bahwa kesalahan atau perilaku buruk itu tidak akan terulang lagi. Kita akan meminta orang tersebut untuk meyakini kita, entah hanya dengan sungguh-sungguh minta maaf atau melalui pembuktian perilaku.
The fact that the fault was happened will never make ourself feel 100% safe anymore, but then we never be 100% safe at the first place. Yeah still, we need to earn our safety on the maximum level in order to forgive someone.

4. Let Go

Sebut saja elemen ini merupakan fase melepaskan dengan ikhlas. A though phase right?
Karena di elemen ini pun kita harus berkomitmen untuk tidak menyimpan dendam dan merelakan hal yang sudah terjadi untuk menjadi bagian dari masa lalu.
Bagi yang sedang atau pernah menjalani hubungan, pasti familiar dong dengan fase-fase 'mengungkit kesalahan dimasa lalu' sang pacar?
Nah, kalau si 'mengungkit kesalahan dimasa lalu' tersebut masih sering terjadi (terutama saat lagi bertengkar), berarti kita belum benar-benar ikhlas merelakan kesalahan tersebut.
Fase 'melepaskan' ini berarti bahwa kita harus rela menyerahakan posisi dominan kita, membuang 'kekuatan' yang kita dapat sebagai korban, untuk kemudian berstatus 'setara' lagi dengan si subjek yang membuat kesalahan.
Intinya, letting go itu berarti bahwa kita harus berjanji pada diri sendiri untuk berhenti membahas/mengulang/merenungkan/bersikeras akan kejadian yang terjadi.
Kalau fase ini sangat sulit dijalani, Howes berteori bahwa berarti kita belum benar-benar berhasil melalui fase 1, 2, dan 3.


Well, gimana? Sudah ada pencerahan kah untuk memaafkan?
Memaafkan berarti kembali berstatus 'setara' lagi dengan oknum tersebut, secara psikologis pun kita akan lebih sehat karena sudah merelakan masa lalu, ini pun berarti bahwa kita akan melepaskan kekuatan kita pada orang tersebut. Mungkin hal-hal inilah yang membuat kita untuk berpikir berkali-kali ketika ingin memaafkan seseorang.
Tetapi mari kita jadikan elemen-elemen ini sebagai acuan kita untuk menjadi orang yang lebih baik dengan memaafkan seseorang dengan ikhlas. 

Let's spread the love in this holy opportunity and be a better person now and in the future!

Happy Idul Fitri.

- Putri Dewinta