Mengenal Gangguan Bipolar


Berapa tahun belakangan, istilah gangguan bipolar (bipolar disorder) tak asing lagi didengar oleh masyarakat Indonesia. Adanya pengalaman-pengalaman yang terungkap mengenai pengidapnya membuat perhatian masyarakat tersorot pada gangguan psikologis ini. Khususnya bagi individu yang update akan media, baik internet maupun televisi. 

Saya mengatakan demikian karena dari yang saya ketahui sebelumnya, masyarakat masih belum familiar akan gangguan psikologi dan bahkan masih sering menyalah artikan makna dari gangguan tersebut. Untuk itu, alangkah baiknya bila saya membantu memberikan sedikit informasi yang berdasarkan sumber ilmiah mengenai gangguan ini. 

Pengertian Gangguan Bipolar 


Gangguan bipolar (bipolar disorder) adalah gangguan mental yang memiliki karakter yaitu mood yang berubah-ubah. Individu yang mengidap gangguan bipolar mengalami perubahan mood antara high (mania) dan low (depresi). Perubahan mood ini memiliki episode atau jangka waktu tertentu. 

Episode Mania & Depresi

Episode mania memiliki karakteristik seperti kegirangan atau kesenangan yang ekstrim, bertingkah hiperaktif, pikiran yang menggebu-gebu (yang terkadang membuat individu berbicara cepat), dan perasaan tidak butuh tidur. Sedangkan episode depresi ditandai dengan rasa kesedihan yang ekstrim, berkurangnya energi dan ketertarikan akan segala sesuatu, tidak dapat menikmati aktivitas yang menyenangkan, dan merasa tidak berdaya dan putus asa. 

Jangka waktu mania maupun depresi pun beragam, dapat berlangsung singkat dari beberapa jam, hari, minggu, atau bahkan bulanan. Jangka waktu ini berbeda pada masing-masing pengidap bipolar. Saking singkatnya, terkadang pengidap tidak menyadari bahwa ia memiliki gangguan tersebut.
Pengidap gangguan bipolar seringkali mengalami apa yang disebut dengan emotional roller coaster. Emosinya yang naik turun dapat membuat mereka sulit menjalani hidup layaknya orang yang normal. Dan bagi pengidapnya, emosi, pikiran, dan perasaan yang dimiliki seringkali diluar kendali mereka.

Gangguan Bipolar Dan Mood Swings 

Membantu memberikan informasi mengenai gangguan bipolar pada orang-orang disekitar saya, seringkali saya mendapati pertanyaan apa yang membedakan individu pengidap gangguan bipolar dengan individu yang tergolong normal tapi menunjukkan mood yang naik turun atau mood swings
Walaupun terkesan sama, saya ingin menekankan bahwa dalam mendiagnosa, terdapat karakteristik-karakteristik tertentu yang harus 'dipenuhi' untuk kemudian dapat membuat individu dikategorikan sebagai pengidap gangguan bipolar. Kriteria ini menunjukkan gejala yang parah, bersifat spesifik, yang berbeda dari naik turunnya mood yang tergolong normal. Jadi, tak selamanya seseorang yang moody merupakan pengidap gangguan bipolar.

Selain itu, yang membedakan dengan emosi individu yang normal ialah bahwa pengidap gangguan bipolar akan merasa sulit untuk melakukan aktivitas keseharian. Ia tidak dapat bekerja dan berkomunikasi secara efektif dan seringkali mengalami distorsi realita.

For Your Information

Mendeteksi adanya gangguan psikologis sangatlah penting bagi individu. Tetapi ingatlah untuk tidak melihat segala sesuatu hanya dipermukaan saja. Karena apabila kita menuding seseorang memiliki gangguan tertentu tanpa tahu kepastiannya, kita hanya akan menciptakan label pada orang tersebut dan memunculkan stigma tertentu yang dapat merugikan orang lain.
Bangunlah kesadaran akan kesehatan mental dengan menyerap informasi-informasi yang kita dapat secara bijak. Selain menambah pengetahuan bagi diri sendiri, kita juga dapat menyikapi segala sesuatunya dengan benar tanpa menyakiti orang lain.

Let's contribute and help by share it to the people around you. Be a smart reader and spread the love!

Cheers,
- Putri Dewinta




Sumber:

Bressert, S. (2013). An Introduction to Bipolar Disorder. Psych Central. Retrieved on November 1, 2015, from http://psychcentral.com/lib/an-introduction-to-bipolar-disorder/

Bressert, S. (2013). Symptoms of Bipolar Disorder (Manic Depression). Psych Central. Retrieved on November 1, 2015, from http://psychcentral.com/lib/symptoms-of-bipolar-disorder-manic-depression/




7 Cara Menghadapi Pikiran Negatif


Hidup di zaman sekarang, hampir selalu saya menemukan energi negatif dimana-mana. Di sekolah, kuliah, ditempat kerja, bahkan dirumah. Ditambah lagi, dengan advanced nya perkembangan teknologi saat ini, aura negatif pun bisa sampai ke kita tak kenal waktu, melalui instagram, twitter, facebook, dan sebagainya.

Terlepas dari adanya pengaruh energi negatif yang berasal dari lingkungan eksternal, alangkah baiknya untuk melakukan intervensi dari sisi internal individu itu sendiri. Seseorang yang didominasi oleh pikiran negatif bukanlah orang yang menjadi favorit dalam hidup orang lain. Apa-apa bawaannya hampir selalu berbau negatif, ditambah lagi aura yang dibawa sangatlah kuat mempengaruhi orang lain.

Memiliki pikiran negatif dapat membuat kamu jadi orang yang penuh prasangka dalam menghadapi segala situasi, dan dari situ kamu jadi susah untuk enjoy momen kamu. But if you wanna help yourself, try these 7 ways to manage your negative thoughts:

1. Recognize Thought Distortions
Kenali Distorsi Pikiran Kamu

Ketika berpikir, otak manusia memiliki cara yang tangguh dalam meyakinkan dirinya tentang sesuatu yang tidak sepenuhnya benar. Dan seperti maknanya, distorsi dapat membuat apa yang kita pikirkan bertentangan dengan fakta yang ada. Jenis pikiran seperti ini dapat menguatkan kita dalam berpikir negatif. Umumnya, ada 4 distorsi pikiran yang dialami individu, yaitu:

- Black And White Thinking: Ketika kamu berpikir bahwa hanya ada hitam dan putih, tidak ada hal diantaranya.  
- Personalizing: Berasumsi bahwa kamulah penyebab semuanya tidak berjalan dengan baik. Contohnya ialah ketika kamu tersenyum namun orang lain tidak tersenyum kembali kepadamu, kamu berpikir bahwa kamulah yang membuatnya marah. Padahal, bisa saja memang orang itu sedang mengalami hari yang buruk atau simpel nya ia sedang tidak mood. 
- Filter Thinking: Memilih untuk melihat situasi hanya dari sisi negatifnya saja 
- Catastrophizing: Berasumsi bahwa pada akhirnya yang terjadi adalah hal yang buruk

Dari keempat jenis distorsi pikiran diatas, pasti masih banyak lagi jenis distorsi pikiran yang mungkin tidak terungkap atau terdeteksi. Yang dimaksud dalam cara pertama ini ialah bahwa untuk melakukan cara menghadapi pikiran negatif, penting bagi kamu untuk sadar terlebih dahulu, agar kemudian kamu bisa lanjut ke step selanjutnya, yaitu untuk menolak pikiran negatif tersebut.

2. Challenge Negative Thoughts
Menolak Pikiran Negatif

Ketika kamu mengalami distorsi pemikiran tersebut, berusahalah untuk menghentikan pikiranmu sejenak untuk mengevaluasi apakah pikiran tersebut akurat atau tidak. Pikirkan ketika situasi ini terjadi pada teman kamu, kemungkinan kamu akan membantah pandangan negatifnya. Bukalah pikiran kamu dan coba untuk berpikir logis terhadap pikiran kamu sendiri.

Cara melakukannya: Jika kamu berpikir bahwa hal buruk akan terjadi, temukanlah alasan dan pencerahan yang dapat meyakini kamu bahwa pada akhirnya yang terjadi tidak akan selalu negatif. 

3. Take A Break From Negative Thoughts
'Istirahat' Dari Segala Pikiran Negatif

Kalau kamu belum tahu atau tidak mempercayainya, saya disini ingin meyakinkan bahwa sangat mungkin bagi kamu untuk 'beristirahat' dari pikiran-pikiran negatif kamu. 

Cara melakukannya: Ketika kamu sudah mulai berpikir jelek, gunakanlah 5 menit waktu kamu untuk benar-benar memikirkan dan merenungkannya, untuk kemudian melupakannya seharian dan fokus pada hal lain. Carilah kesibukan dan kelilingilah diri kamu dengan orang-orang yang positif dan tidak akan menambah beban pikiran kamu.

4. Release Judgement
Buanglah Penilaian-penilaian Negatif Kamu

Seringkali kita menilai diri kita dan orang lain, dan ada kalanya kita melakukan hal tersebut secara tidak sadar hingga dapat menyebabkan kekecewaan pada diri kita. Namun, ketika kita mencoba untuk membuang atau memperbaiki segala penilaian tersebut, kita akan merasa lebih nyaman menjalani hidup dan lepas dari beban pikiran yang kita ciptakan.

Cara melakukannya:
-  Sadar akan apa yang kamu pikirkan, amati pikiran tersebut, dan biarlah pikiran ini pergi jauh
- Coba untuk melakukan penilaian yang positif

5. Practice Gratitude
Bersyukurlah!

Dari seluruh tips-tips yang ada, menurut saya inilah yang paling memberikan pengaruh besar. Saya pun sering mendengar nasehat dan petuah dari orang bijak, bahwa kunci dari kebahagiaan ialah dengan bersyukur. Ketika kamu bersyukur dengan tulus, penuh rasa ikhlas, dan tanpa mengharapkan hal lain untuk datang kepadamu, kamu akan merasa bahagia dengan apa yang kamu miliki.

Penelitian juga mengatakan bahwa bersyukur dapat mempengaruhi level energi positif dalam diri kamu dan menimbulkan kebahagiaan. Kalau kamu membiasakan diri untuk bersyukur, kamu akan dapat menemukan hal untuk disyukuri tak peduli sekecil apapun hal itu, bahkan ketika kamu dalam keadaan sulit.

Cara melakukannya: Ketika kamu merasa kekurangan ini itu dalam hidup kamu, cobalah untuk menengok pada apa yang sudah kamu punya, dan bersyukur akan hal tersebut. Menulis jurnal juga dapat membantu kamu melihat lembaran hidup kamu sebelumnya, bahwa banyak sekali hal indah yang sudah kamu miliki dan wajib kamu syukuri.

6. Focus On Your Strengths
Fokus Pada Kelebihanmu

Berpikir negatif dan mengabaikan hal yang positif memang manusiawi. Tetapi ketika kamu merasa bahwa diri kamu di dominasi oleh energi yang negatif, bukan masalah untuk kemudian merasa bangga akan kelebihan yang kamu miliki. You need that.

Cara Melakukannya: Ketika kamu mulai berpikir jelek mengenai diri kamu atau apa yang kamu lakukan, berhentilah sejenak dan pikirkanlah mengenai kelebihan yang dimiliki, atau hal-hal baik yang kamu suka dalam diri kamu. 

Dengan memfokuskan pikiran pada kelebihan diri dan tidak memikirkan keburukan kamu, akan lebih mudah bagi kamu untuk berpikir positif pada diri kamu sendiri dan melihat jelas arah kehidupan yang kamu jalani. 

7. Seek Out Professional Support
Temui Dan Dapatkan Bantuan Profesional

Kalau kamu merasa sulit untuk mengatur pikiran kamu dan merasa hal tersebut mengganggu kamu dalam menjalani dan menikmati hidup, cobalah untuk menemui Psikolog/Ahli Profesi dan jadikan konseling dan terapi sebagai opsi kamu. Jika kamu benar-benar ingin mendapatkan perubahan hidup, mengurangi penderitaan emosional kamu, dan menginginkan adanya perkembangan diri kamu, pertimbangkanlah hal ini.  



Try It!
Cobalah!

Sungguh tak mudah untuk mengontrol dan membenahi pikiran kita. Terkadang kita pun sudah terbiasa dengan jalan pikiran tertentu dan merasa bahwa tak perlu ada yang diubah didalamnya. Dengan begitu, cara berpikir seperti ini akan semakin menguat dan mengalir apa adanya dalam pikiran kita. But who says that its too late to change?

Berpikir bahwa sangat sulit untuk mengubah jalan pikir kamu, mungkin juga merupakan bagian dari pikiran negatif itu sendiri. So who's with me to change to be a better person?




Loves,
- Putri Dewinta
 
Sumber:
https://www.psychologytoday.com/blog/women-s-mental-health-matters/201509/7-ways-deal-negative-thoughts?utm_source=FacebookPost&utm_medium=FBPost&utm_campaign=FBPost

6 Tipe Ucapan Yang Menyakitkan (Verbal Abuse) Dan Cara Menanggapinya



Salah satu nikmat yang dimiliki manusia ialah kemampuan untuk berbicara. Ketika terucap dengan santun dan baik, sebuah lisan dapat mengangkat derajat manusia dengan tinggi. Namun, seperti yang kita tahu, lisan juga dapat membawa malapetaka tak hanya bagi yang mengucapnya, tapi juga bagi orang yang mendengarnya. 

Mengamati lingkungan sekitar, televisi, dan juga di media sosial, banyak sekali orang-orang yang merasa bangga akan kemampuan lisannya yang begitu mahir dalam berkata-kata. Mungkin karena melalui sebuah kalimat, seseorang dapat terdengar lebih pintar dan lebih tinggi derajatnya dari orang lain. Namun melalui hal tersebut, banyak dari individu yang lupa akan dampak dari permainan kata yang diucapkan. Seringkali individu tidak berhati-hati dalam berbicara, sehingga sadar ataupun tidak, ia telah menyakiti orang lain bahkan hingga dapat mengundang konflik yang berkepanjangan.

Yang ingin saya tekankan disini ialah tipe ucapan yang menyakitkan yang dilisankan oleh subjek yang berbicara. Saya mengacukan hal ini dengan istilah verbal abuse
Maksud dari verbal abuse disini ialah sebuah tindakan secara lisan yang dapat memberi efek kekerasan atau penghinaan. Verbal abuse merupakan perilaku negatif karena dapat memberi dampak buruk bagi mental seseorang. Disini, saya akan mencoba menerangkan mengenai 6 tipe ucapan yang menyakitkan (verbal abuse) beserta cara menanggapinya. Dan untuk seterusnya, subjek yang melakukan verbal abuse akan saya sebut sebagai abusers

Here we go:

1. Abusers use the volume and tone of their voice either by yelling or ignoring to establish dominance

Abusers berbicara menggunakan nada dan volume tertentu, seperti berteriak atau mengabaikan lawan bicaranya, untuk mendominasi situasi. 

Cara Menanggapi: Ketika abusers menggunakan nada dan volume yang tidak menyenangkan saat berbicara pada kamu, tahan keinginan kamu untuk berteriak balik pada dia, atau diamlah sebagai bentuk silent treatment. Kemudian ketika abusers mulai berteriak, meresponlah dengan suara yang lebih tenang dari yang biasanya. Dan jika abusers bersikap cuek, cobalah untuk berbicara baik-baik padanya, anggap saja dia mendengarkan dan menanggapimu. 


2. Abusers use swearing and threatening language to instill fear, intimidate, manipulate, oppress and constrain

Abusers akan mengumpat dan mengancam untuk menanamkan rasa takut, intimidasi, memanipulasi, menekan, dan memaksa diri kamu. 

Cara menanggapi: Berusahalah untuk melakukan self-talk yang positif berulang kali, agar meyakinkan diri bahwa kamu tidak takut. Karena ketika kamu meyakinkan hal ini dalam diri kamu, abusers tidak akan terundang untuk mengatakan hal lebih banyak lagi


3. The abuser’s manner of speech is argumentative, competitive, sarcastic and demanding

Cara berbicara abusers bersifat argumentatif, kompetitif, sarkastis, dan menuntut.

Cara menanggapi: Ketika dia memotong pembicaraanmu, lebih baik berhentilah berbicara sampai ia selesai berbicara. Kemudian kembalilah pada poin awal yang kamu maksud, tidak perlu terpengaruh pada poin yang ia buat ketika ia memotong pembicaraanmu. Jika ia mencoba untuk mengintogerasi kamu, jawablah pertanyaan yang sebenarnya ia ingin ketahui, bukan yang ia tanyakan. Cobalah merespon dengan nada sarkartis seperti, "Mungkin saya memang konyol, dan kamu selalu benar"


4. Abusers use personal attacks such as name calling, mocking responses, defaming character, berating feelings, and judging opinions.

Abusers menyerang kamu secara personal. seperti memanggil kamu dengan sebutan yang menyakitkan, mengejek, memfitnah, mencaci maki, dan menghakimi pendapat kamu

Cara menanggapi: Ini merupakan taktik 'bicara' yang dapat membuat korban merasa rendah dan kalah. Dalam hal ini, sekali lagi kamu membutuhkan self-talk yang positif. Cobalah untuk selalu mengingat bahwa apa yang dikatakan orang lain tentang kamu tidak selamanya benar, karena kamu yang lebih mengetahui diri kamu sendiri. 


5. Abusers refuse to take responsibility, become hostile, invalidate or dismiss feelings, lie, and conveniently forget promises or commitments

Abusers menolak untuk bertanggungjawab, menunjukkan permusuhan, mengabaikan perasaan, berbohong, dan melupakan janji-janji atau komitmen yang ia buat. 

Cara menanggapi: Ketika tiba waktunya abusers mendapatkan konsekuensi dari perbuatannya, jangan biarkan ia lari begitu saja. Berikanlah opini kamu disaat waktunya tepat dengan harapan ia akan menyadari perbuatannya tersebut. 


6. Typical abusive sayings include: “I’m critical for your own good,” “I was only joking when I said that…,” “If only you would…, then I won’t have to be this way,” “You don’t know how to take a joke,” “The problem with you is…,” and “That (verbal abuse) didn’t really happen.”

Abusers memiliki perkataan typical seperti "Aku bersikap kritis untuk kebaikanmu sendiri", "Aku hanya bercanda soal itu..", "Kalau saja kamu tidak begitu.. mungkin aku tidak akan begini..", "Kamu tidak dapat menanggapi lelucon", "Yang salah dari dirimu ialah..."

Cara menanggapi: Ketika kamu sudah mulai mendengar kalimat-kalimat diatas, kamu harus cepat menyadari bahwa itu merupakan bentuk awal verbal abuse. Jadikanlah catatan pada dirimu untuk segera mengakhiri pembicaraan dengan orang tersebut secepat mungkin agar kamu tidak menjadi korban.


You Should Be Aware Of The Abusers Around You!
Berhati-hatilah pada abusers disekitarmu!

Ketika seseorang sudah menjadi korban akan permainan kata-kata, ia akan lebih mudah dikontrol dan dimanipulasi oleh si subjek yang menyakiti. Dan ketika korban membalas penghinaan verbal tersebut, sebisa mungkin abusers akan memutarbalikan fakta sehingga ia tampak sebagai korban. Dari situ, abusers akan semakin mendapatkan kontrol. 

Terkadang tanpa kamu sadari, orang terdekat kamu pun pernah melakukan beberapa hal ini. Kamu harus menyadari bahwa setiap perkataan memiliki arti lain bagi alam bawah sadar kamu sendiri, sehingga tanpa sadar, kamu akan terpengaruh dengan apa yang orang lain katakan padamu. Yang perlu diingat, berhati-hatilah ketika kamu sudah merasa tidak nyaman akan suatu hal yang dilakukan orang lain, dan jangan ragu untuk pergi dari subjek negatif tersebut. Love yourself! 


Cheers!
- Putri Dewinta


References:

Hammond, C. (2015). Strategies for Combatting Verbal Abuse. Psych Central. Retrieved on October 12, 2015, from http://pro.psychcentral.com/exhausted-woman/2015/10/strategies-for-combatting-verbal-abuse/


Apakah Hubungan Percintaan Kamu Membuat Diri Jadi Lebih Baik Atau Lebih Buruk?



Apabila kamu memperhatikan hubungan orang-orang disekitar kamu, ada kalanya kamu mendengar seorang pria berkata bahwa ia menjadi seseorang yang lebih baik karena wanitanya. Baik bagi wanita ataupun laki-laki, merupakan sebuah keistimewaan mendengar hal tersebut datang dari pasangan kita. Its like we play a heroic kind of partner, that help our love one get away from the dark side, and to the light side. So romantic yet so classic!

Tapi kalau kita perhatikan, hal itu memang benar adanya lho! Hal ini biasa terjadi didalam sebuah hubungan dan konon mudah diucapkan. Sadar atau tidak, ketika kita menemukan pasangan yang tepat, kita bisa berubah menjadi sosok yang lebih baik dari sebelumnya. Atau malah mungkin sebaliknya, ketika memiliki pasangan yang menjerumuskan, pribadi yang tadinya baik, malah menjadi lebih buruk.


Dengan kata lain, seorang pasangan dalam hidup kita memiliki kemampuan untuk mengubah konsep diri (self-concept) kita sebagai individu. Hal ini dapat terjadi melalui dua cara, yaitu melalui dimensi (dimention) dan kapasitas (valence).
Dimensi merupakan suatu aspek yang bisa ditambahkan atau dikurangi di dalam diri kita. Kita dapat 'menambahkan' ciri khas dan perspektif yang belum pernah kita temukan sebelumnya, namun kita pun juga dapat kehilangan aspek dari diri kita.
Kapasitas mengacu pada seberapa positif atau negatif pandangan kita terhadap konsep diri kita. 
Kedua dimensi ini kemudian dapat membentuk 4 tipe konsep diri, dimana dimasing-masingnya memiliki konsekuensi tertentu (Mattingly, Lewandowski, & McIntyre, 2014).

4 tipe konsep diri ini adalah:

1. Self-Expansion
Pengembangan Diri

Self-expansion atau pengembangan diri, ialah ketika individu mendapatkan aspek positif dalam hidupnya. Seringkali, pengembangan diri terjadi ketika sepasang kekasih sama-sama memiliki pengalaman yang menyenangkan. Contohnya, ketika pasangan bercerita denganmu mengenai hal apa yang ia suka, kamu ikut senang akan hal tersebut. Lalu seperti merasakan energi positif yang menular, kamu pun jadi ikut merasakan dorongan untuk melakukan apa yang kamu inginkan atau kamu sukai juga. Dengan tercapainya aspek ini dalam hubungan, akan dapat membantu individu menemukan kualitas dalam diri yang tidak pernah ketahui sebelumnya.

Pengembangan diri dapat terjadi ketika pasangan memberikan keleluasaan dan dorongan untuk tumbuh menjadi lebih baik. Dimana hal ini memberikan nilai yang berharga bagi hubungan, memotivasi seseorang untuk berusaha untuk menjaga hubungannya, yang kemudian memberikan sebuah cinta yang lebih besar dari sebelumnya (Streep, 2015).

2.  Self-Adulteration
Perubahan Diri Menjadi Lebih Buruk

Tidak selamanya hubungan membawa pengaruh yang positif. Pada kenyataannya, sangat memungkinkan bagi seseorang untuk menyerap atribusi negatif dari pasangannya. Inilah yang disebut dengan self-alduteration. Hal ini dapat terjadi ketika seseorang mengadaptasikan kebiasaan buruk dari pasangannya. Contohnya seperti merokok, menjadi alcoholic, atau dapat juga jadi ikutan suka marah-marah, kasar, dan sebagainya.

3. Self-Contraction
Hilangnya Jati Diri

Konsep diri yang sudah kita miliki juga dapat menghilang lho, seperti halnya konsep tersebut dapat tumbuh dan berkembang. Terkadang, hal yang kita sukai pun terpaksa harus kita korbankan demi perasaan tidak suka si pasangan. Ini menandakan bahwa konsep diri kita yang sebenarnya telah melemah dikarenakan hubungan percintaan kita.
Contohnya, ketika individu yang extrovert sering pergi untuk bersosialisasi, semenjak berpacaran, ia terpaksa harus berhenti melakukan hal tersebut karena pasangannya tidak suka ia sering keluar rumah. Kebayang dong rasanya seperti apa? Kepribadian kamu bisa berubah drastis dan sangat mungkin menyebabkan respon-respon negatif yang akan ditujukan ke pasangan.

4. Self-Pruning
Pemangkasan Aspek Diri Yang Tidak Baik

Seorang pasangan juga dapat membantu kita untuk melakukan self-pruning. Yang dimaksud dengan self-pruning ialah ketika pasangan dapat membantu kita untuk mengurangi kebiasaan buruk yang kita miliki. Contohnya, mendorong pasangan untuk berhenti merokok, berhenti minum, dsb. 

Aspek ini dapat membuat pasangan merasa menjadi pribadi yang lebih baik, dan sadar akan lingkungan positif yang diciptakan oleh pasangannya. Hubungan yang terjalin pun juga akan terasa lebih berharga dan bernilai. Selain itu, dapat dikatakan bahwa self-pruning dikedepannya juga dapat berkembang menjadi self-expansion.


Why Its Important?

Dalam menjalin hubungan, sangat besar kemungkinan bagi diri kita untuk berubah, terlebih lagi ketika menjalani hubungan yang sudah bertahun-tahun lamanya.
Self-expansion dan self-pruning dapat menghasilkan komitmen, kasih sayang, kepuasan, dan mengurangi kemungkinan ketidaksetiaan pasangan kita. 
Sedangkan hubungan yang memiliki nilai self-adulteraton dan self-contraction, cenderung akan menjadi tidak menyenangkan, kurang rasa saling mengasihi, dan lebih memumungkinkan untuk terjadi sebuah perselingkuhan. 

Dari keempat aspek ini, perlu dicatat bahwa ketika sebuah hubungan membuat konsep diri lebih baik, kemungkinan akan datangnya hal positif lainnya akan lebih besar. 
Sedangkan apabila sebuah hubungan membuat konsep diri individu menjadi negatif, hal ini dapat menyebabkan individu melihat komitmen yang lebih kecil dalam hubungannya, dan akan terus mencari hal yang lebih baik diluar sana. 

Kebanyakan pasangan bahkan tidak ingin ambil pusing mengenai hal tersebut, atau bahkan cenderung tidak pernah menyadarinya. Terkadang, disekitar saya pun banyak pasangan yang merasa terlalu sulit untuk memutuskan hubungan cintanya, walaupun mereka sadar akan kualitas diri mereka yang sudah memudar. Namun bagi saya, aspek-aspek diatas adalah hal yang penting bagi individu, karena sekiranya seorang pasangan yang kita percaya untuk hidup dengan kita nanti, bersama-sama harus dapat membangun sebuah hubungan yang positif, tanpa harus menghilangkan jati diri kita.



Salah satu hal yang indah didalam hubungan ialah ketika kita bisa bersama-sama berkembang menjadi orang yang lebih baik dari sebelumnya. Tidak mudah memang untuk mencari pasangan yang tepat untuk diri kita. Jika memang kamu sudah mentok dengan pasangan kamu, coba bicarakan dan cari jalan keluarnya. Think about someone who's gonna grow old with you, he / she should be your other half!

Cheers!
-Putri Dewinta



Reference:
Mattingly, B. A., Lewandowski, G. W., Jr., & McIntyre, K. P. (2014). “You make me a better/worse person”: A two-dimensional model of relationship self-change. Personal Relationships, 21, 176-190.

https://www.psychologytoday.com/blog/tech-support/201508/is-your-relationship-growing-or-diminishing-your-real-self